>

Jumat, 01 Juli 2011

Prediksi Terjadinya Lailatul Qadar Versi Imam Qalyubi

Lailatul Qadar atau Lailat Al-Qadar (bahasa Arab: لَيْلَةِ الْقَدْرِ ) (malam ketetapan) adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadan, yang dalam Al Qur'an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dan juga diperingati sebagai malam diturunkannya Al Qur'an. Deskripsi tentang keistimewaan malam ini dapat dijumpai pada Surat Al Qadar, surat ke-97 dalam Al Qur'an.


Nah keberadaan Malam Lailatul Qadar diyakini bisa diprediksi dengan melihat awal hari di bulan ramadhan. Secara singkat inilah rumus nya :


  1. Jika awal Ramadhan hari Ahad atau Rabu, maka kemungkinan malam Lailatul Qadar pada malam 29
  2. Jika awal Ramadhan hari Jum’at atau Selasa, maka kemungkinan Lailatul Qadar pada malam 27
  3. Jika awal Ramadhan hari Kamis, kemungkinan malam Lailatul Qadar pada malam 25.
  4. Dan jika awal Ramadhan hari Sabtu,maka kemungkinan malam Lailatul Qadar pada malam 23.
  5. Sedang jika awal Ramadhan jatuh pada hari Senin, maka kemungkinan malam Lailatul Qadar pada malam 21
Adapun tanda tanda malam Lailatul Qodar adalah udara pada malam itu tidak panas dan tidak dingin (sedang), keesokan harinya matahari tidak terlalu panas.

Walhasil, kunci utama untuk mendapatkan “Lailatul Qadar” adalah melawan hawa nafsu (setan) dengan menghindari segala macam bentuk kemaksiatan serta meperbanyak ibadah terutama shalat malam (qiyamul lail) selama bulan suci Ramadhan atau kita menjadi hamba yang kalah melawan hawa nafsu.

Termasuk kewajiban kita untuk menjaga dan meperingatkan keluarga kita dari hal hal yang merusak moralitas Islam dan bangsa seperti menonton tayangan-tayangan televisi yang tidak mendidik dan merusak moral/mental umat Islam Indonesia, khususnya pada anak-anak kita.

Tentunya, tayangan-tayangan itu jika ditonton akan menggugurkan pahala ibadah puasa kita. Terlebih lagi acara maksiat tersebut ditayangkan saat menjelang waktu sahur. Semestinya mereka wajib menghormati umat Islam yang sedang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, sementara pemerintah kita (MUI) terkesan apatis menanggapi tayangan yang tak bermoral tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar